Sunday 23rd November 2014

MENGENAL BAPAK B.J.HABIBIE

8

Siapa yang tidak mengenal sosok B. J. Habibie? Seorang ahli aeronautika muslim yang namanya mendunia dan telah masuk dalam deretan ilmuwan fisika. Tidak hanya dikagumi rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Seorang muslim yang kisah kehidupannya begitu memesona untuk disingkap dan dipelajari. Gaya bicaranya yang khas berikut sorot matanya yang tajam, serta senyumannya yang selalu mengembang pernah menghiasi layar televisi di Indonesia beberapa tahun silam.

Namun kini, sosok beliau bisa jadi telah dilupakan. Seolah-olah bangsa ini tidak pernah memiliki seseorang yang telah berjasa mengharumkan nama bangsanya melalui akselerasi pengembangan teknologi. Padahal, di balik perjuangan beliau tersingkap sederet pelajaran berharga yang seharusnya dapat ditiru oleh generasi di zaman ini. Ada cinta yang besar dalam sanubari beliau untuk membangun bangsanya. Ada segudang prestasi beliau yang telah mengguncang dunia dan mengharumkan Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul “The True Life of Habibie, Cerita di Balik Kesuksesan”, Makmur Maka mengungkapkan secara ilmiah tentang kehidupan B. J. Habibie. Dia merupakan seorang anak desa yang terlahir dari keturunan darah Bugis dan Jawa. Dia merupakan anak yatim, karena ayahnya telah wafat ketika usianya masih anak-anak. Namun, di masa ini pula Habibie tumbuh menjadi seorang anak yang kuat dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip agamanya. Penanaman nilai-nilai agama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, khususnya sang Ibu dan kelak akan terlihat hasilnya ketika beliau menghadapi berbagai tantangan di masa tuanya.

Di usia sekolah, kepandaiannya tampak biasa-biasa saja sebagaimana teman-temannya. Prestasinya mulai tampak dan dirinya mulai bersinar ketika telah memasuki masa-masa SMA, yaitu ketika ia dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan fisika, seperti pelajaran Stereo Goneo secara lebih singkat jauh melampui kemampuan teman-temannya. Sehingga oleh Pak Gouw, gurunya di kala itu dia diberi nilai maksimal dan predikat prestasi yang baik.

Setelah tamat dari tingkat SMA, Habibie melanjutkan ke THS (sekarang ITB) sesuai dengan keinginannnya untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang teknik, khususnya fisika. Baru beberapa bulan di sana, beliau akhirnya mendapat kesempatan untuk meneruskan kuliahnya di Technische Hochschule Aachen, Jerman. Meskipun tidak mendapat beasiswa penuh, beliau tidak pernah surut untuk mewujudkan cita-citanya yang besar yaitu ingin mempersembahkan sesuatu yang besar bagi bangsa dan negaranya.

Masa-masa kuliah di Jerman, adalah masa-masa yang pahit dan penuh perjuangan. Namun bagi beliau, semua itu justru menjadikan cambuk yang dahsyat baginya. Beasiswa yang tidak penuh membuat dirinya selalu berpikir matang dalam menjalani kuliah. Baginya, ketidaklulusan dalam suatu mata kuliah adalah beban berat yang akan ia lemparkan kepada ibunya yang telah rela menjual salah satu rumah demi studinya di Jerman tersebut. Maka tidak mengherankan jika kelak beliau kemudian lulus dengan predikat Cumlaude dengan angka rata-rata 9,5.

Di sela-sela kesibukannya dalam kuliah, Habibie tidak lantas meninggalkan aktivitas organisasi. Justru beliaulah salah satu aktivis yang paling giat dalam melakukan konsolidasi antar mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa ketika itu. Beliau adalah inisiator dalam membentuk kelompok-kelompok diskusi mahasiswa saat itu. Tujuannya adalah untuk menggali pemikiran mereka yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia jika kelak kembali. Hasilnya adalah dengan terselenggaranya seminar pembangunan nasional yang dihadiri oleh seluruh perwakilan mahasiswa Indonesia di penjuru Eropa.

Semangat beliau tidak berhenti meskipun kemudian dia tidak lagi menjadi mahasiswa. Sebagai patriotis sejati, dia mengoptimalkan aktivitasnya di luar negeri sembari mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil kembali ke Indonesia. Dia melanjutkan studinya sampai doktor sambil terus bekerja di industri konstruksi pesawat di Jerman. Maka tidak mengherankan jika kegigihannya dalam mengembangkan teknologi telah menghadirkan kepercayaan MBB (perusahaan kontruksi pesawat terbang terbesar di Jerman kala itu) untuk mengangkatnya sebagai Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB, sebuah jabatan yang  mungkin mustahil diberikan oleh bangsa Jerman kepada orang asing selain Habibie.

Di puncak kariernya ini, beliau berhasil membuat dunia tercengang dengan teori keretakan badan pesawat. Teori ini telah memberi manfaat kepada dunia dan memberi peran menyelamatkan manusia dalam transportasi. Buku-buku karya beliau tentang aeronautika dan selainnya pun telah menjadi buku rujukan di seluruh dunia dalam hal mekanika dan penerbangan. Semua itu telah membuka mata dunia bahwa orang Indonesia tidak tertinggal dalam teknologi.

Dan yang lebih penting, dunia mendapati bahwa beliau adalah seorang muslim yang taat. Beliau bukan sekadar ilmuwan sebagaimana para ilmuwan Eropa atau Amerika, tetapi seorang ilmuwan muslim yang terlahir di bumi Indonesia yang mengharumkan nama Islam. Berbagai pujian dan harapan beliau terima dari pemerintah negeri-negeri muslim di penjuru dunia. Betapa luar biasanya, Indonesia dan dunia muslim saat itu telah memiliki seorang ahli aeronautika dunia satu-satunya yang ahli dalam teori cracking­ propagation pesawat.

Hingga kemudian bangsa Indonesia memanggilnya untuk memegang tampuk pengembangan teknologi. Direlakannya jabatan besar dan segala kemewahan di MBB untuk mengabdi demi bangsanya. Jabatannya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi telah mengantarkan Indonesia menjadi negara yang memiliki industri strategis termaju di tingkat ASEAN ketika itu. Hampir saja negeri ini memiliki pesawat N-250 Gatotkaca buatan sendiri yang siap untuk diekspor di seluruh dunia sebagai pesawat tercanggih yang khusus dimiliki oleh orang-orang penting di seluruh dunia. Namun takdir berkata lain, bahwa teknologi tersebut kandas di tengah jalan ketika reformasi berkecamuk padahal pesawat canggih tersebut tinggal menunggu sertifikat penerbangan internasional sebagai syarat terakhir uji kelayakan pesawat tersebut.

Habibie dikenal sebagai sosok alim yang taat beragama dan telah menjadi figur muslim yang patut dicontoh oleh umat Islam dalam hal semangatnya membangun peradaban. Beliau pernah dipercaya sebagai ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Beliau bahkan beberapa kali menjadi tamu istimewa bagi keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Sikapnya yang penuh dengan keramahan dan kecerdasannya dalam berpikir telah menarik hati para pemimpin dunia untuk bersimpatik kepada Indonesia.

Jika beliau berbicara tentang teknologi maka sebenarnya beliau sedang mengajak rakyat Indonesia untuk terus belajar agar menjadi cerdas. Jika beliau berbicara tentang industri strategis maka sebenarnya beliau sedang mengajak semua elemen bangsa untuk mengentaskan kemiskinan secara sistematis dan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap asing. Demikian ringkasan biografi singkat sekaligus ungkapan kekaguman Makmur Makka terhadap sosok beliau.

Dari paparan yang cukup singkat di atas kita dapat melihat betapa dahsyatnya beliau melejitkan diri dalam menggali potensi yang ada sehingga kita mengenal beliau sebagai manusia kompetitif dengan segudang prestasi mendunia. Sehingga diharapkan kita dapat memperoleh pelajaran sekaligus hikmah dari perjalanan salah seorang pahlawan bangsa yang kini mulai dilupakan. Serangkaian hikmah dapat kita petik dari kisah singkat perjalanan hidup beliau yang telah dipaparkan sebelumnya sebagai sebuah pelajaran praktis dalam melejitkan potensi diri kita untuk meraih prestasi gemilang.

Pertama, beliau adalah orang yang mampu mengenali potensi dirinya dan bersungguh-sungguh untuk mengembangkannya. Hal ini terlihat dari keseriusannya dalam mengembangkan diri sesuai dengan bakat yang ada pada dirinya. Beliau memiliki kelebihan dalam fisika dan beliau pun memaksimalkan pengembangan dirinya untuk menekuni bidang ini khususnya dalam bidang aeronautika sehingga melahirkan karya-karya besar yang mendunia dan bermanfaat bagi peradaban manusia. Jika kita bersungguh-sungguh mengenali kemampuan yang terpendam dalam diri kita kemudian mengasahnya secara terus menerus niscaya kita mampu menghasilkan sesuatu yang besar dan bermanfaat. Maka tak mengherankan jika Bang Anwar Fuady, penulis novel Negeri 5 Menara juga terinspirasi dengan kehidupan beliau. Meskipun tidak menjadi ahli mekanika seperti Habibie, Bang Anwar tetap membawa semangat tersebut yang dibingkai oleh sebuah akan kata nasihat man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya.

Kedua, beliau adalah orang yang disiplin dan pandai memanfaatkan waktu. Target kuliah beliau ibarat besi yang tidak memiliki modulus elastisitas, sehingga beliau tidak berkompromi terhadap masa studi. Keterbatasan biaya karena tidak mendapat beasiswa seperti mahasiswa yang lain membuat beliau memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam belajar dan menuntaskan studi sesuai dengan target yang diberikan. Beliau mampu mengolah kecerdasan intelektualnya secara maksimal. Namun beliau juga tidak menafikan kegiatan organisasi dalam skala regional yang bisa kita bayangkan betapa sulit pengelolaan waktunya. Semua beliau jalankan dan terbukti memberikan hasil yang luar biasa. Ini merupakan bukti dari seorang yang memiliki ciri harisun alal waqtihi. Dari sini, kita katakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang benar-benar disiplin terhadap waktunya dan komitmen dalam memanfaatkannya.

Ketiga, beliau adalah orang yang sangat kompetitif. Menjadi Wakil Presiden dan Direktur MBB bukanlah hal yang mudah, bahkan bisa jadi mustahil untuk orang asing selain Habibie. Bagaimana tidak? Perusahaan yang merupakan kebanggaan masyarakat Jerman kala itu dapat memberi kesempatan kepada seorang warga negara asing seperti Habibie. Jika bukan karena kompetensinya yang luar biasa, tidak mungkin jabatan itu diberikan kepada beliau.

Jiwa kompetitif beliau ini diusung oleh dua karakter hebat yang selalu tertancap pada diri beliau yaitu semangat bekerja keras dan dedikasi yang tinggi. Dalam biografi yang ditulis Makmur Makka diungkapkan bahwa beliau adalah orang yang menghabiskan waktunya di laboratorium selama menjabat direktur teknologi MBB untuk melakukan penelitian dan rancang bangun kepesawatan. Sehingga tidak mengherankan jika teori keretakan pesawat mampu membawa dirinya tercatat dalam sejarah perkembangan fisika dunia.

Keempat, beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana dan berjiwa besar. Kerendahhatian beliau terlihat dari percakapan beliau dengan presiden Soeharto ketika itu,

Presiden, “Habibie, sudah saatnya kamu pulang ke Indonesia untuk membangaun negaramu!”

Habibie, “Iya Pak, tapi saya bisa berbuat apa. Saya hanya bisa membuat pesawat terbang”.

Presiden, “Jika membuat pesawat saja bisa, maka yang lain-lain pasti lebih bisa”

Ungkapan presiden Soeharto saat itu terbukti benar. Memang Habibie mampu berbuat banyak hal untuk menyelematkan bangsa Indonesia dari ketertinggalan teknologi dan mencetak generasi-generasi yang ahli di bidang teknologi.

Dalam hal kesederhanaan, terlihat jelas apa yang sebenarnya menjadi orientasi seorang pejuang seperti beliau. Meninggalkan MBB berarti meninggalkan kemewahan dunia dan siap berdikari di negeri sendiri dengan segala keterbatasannya. Dapat dibayangkan betapa kecintaannya kepada Indonesia, seorang wakil pimpinan perusahaan yang gajinya saat itu sudah hampir mencapai Rp 10.000.000,00 rela melepas jabatannya dan pulang ke tanah airnya untuk menjabat menjadi kepala BPPT yang gajinya hanya sekitar Rp 450.000,00. Namun itulah keikhlasan yang sejati, ketika setiap pencapaian yang dilakukan adalah untuk dipersembahkan kepada Alloh, dan kemudian untuk kesejahteraan umat manusia. Beliau rela hidup dengan gaji pejabat di Indonesia ketika itu asal dapat membangun negaranya dan dapat mempersembahkan yang terbaik untuk pengembangan teknologi Indonesia.

Bukti lainnya adalah ketika beliau mulai dilupakan oleh negaranya, beliau tidak lantas mencari perhatian dan berbagai masalah yang sebenarnya dapat beliau lakukan mengingat posisi beliau di mata dunia. Gelombang reformasi yang menggilas seluruh negeri telah menghempaskan rezim orde baru dan semua orang yang dianggap sefase dengannya, termasuk B. J. Habibie. Beliau kemudian mundur dari dunia pemerintahan, namun tetap memberikan manfaat bagi dunia khususnya dalam pengembangan teknologi serta tetap aktif memberi peran bagi bangsa Indonesia melalui Habibie Center-nya. Jabatan presiden yang pernah diamanahkan bukan untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk merehabilitasi kehidupan bangsanya meskipun banyak tekanan dari berbagai penjuru.

Dan dari keempat point di atas, penulis menekankan pada point paling akhir yaitu bagiamana kita seharusnya membina diri untuk selalu berjiwa besar dan bervisi besar untuk berkontribusi. Seorang negarawan bukanlah orang yang sibuk berdebat saja di dalam memandang permasalahan, juga berkubu-kubu untuk membela siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konteks rivalitas politik. Seorang negarawan adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas, senantiasa bervisi untuk mewujudkan kehidupan masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Memberikan kontribusi yang besar kepada bangsa terus menerus adalah karakter sejati seorang negarawan.

Akhirnya kita mengerti bagaimana orang besar seperti B. J. Habibie memberikan kontribusinya untuk Indonesia. Seorang suami yang baik, ayah yang menginspirasi, negarawan sejati, cendikiawan muslim, dan seorang yang hidupnya sederhana yang telah mengguncang dunia karena karya dan kebaikannya. Beliau adalah salah satu sosok manusia prestatif yang mampu mengubah wajah Indonesia sehingga dapat bertransisi dari era agraris menuju era teknologi. Tentunya tidak selayaknya kita hanya menjadi pengagum dari karya-karya beliau, tetapi menjadi pembuat jejak-jejak baru dalam era yang baru ini pula agar kita bisa menjadi negarawan-negarawan yang baik di masa depan. Sehingga para pendiri bangsa ini, dan mereka-mereka yang terus berkomitmen menjadi negarawan sejati tersenyum saat melihat generasinya sekarang masih bergiat untuk menjadi penerus-penerus mereka. Jayalah Indonesia, jayalah negeriku tercinta. Mari kita belajar untuk merawat Indonesia.




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

6 Responses

  1. Jaka24/10/2012 at 22:43Reply

    sungguh sayang seorang Bj habibie bahkan dilupakan bangsa ini..

    • As30/10/2012 at 13:52Reply

      kita ribut jika beliau ditarik negara lain

  2. juju19/12/2012 at 11:57Reply

    bagus bgt tulisannya cuma sedikit koreksi pengarang novel negeri5 menara ahmad fuadi , bukan anwar fuadi ..maaf sebelumnya ya

    • As19/12/2012 at 13:26Reply

      makasih ya atas koreksinya
      salam kenal

  3. M.DONI21/05/2014 at 19:25Reply

    kenapa nggak ada tanggal lahir pak B.J. Habibie

    • As10/06/2014 at 11:11Reply

      maaf, di artikel ini memang tidak mencantumkan tanggal lahir BJ. Habibie beliau lahir pada tanggal 25 Juni 1936
      thanks

Leave a Reply


4 − = zero