badge

Langkah Pemerintah Mengontrol Licinnya Minyak Bersubsidi

Harga Minyak Bumi Meroket
Harga Minyak Bumi Meroket

Harga Minyak Bumi Meroket

Minyak bumi adalah Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbaharui yang merupakan sumber energi penting yang dibutuhkan manusia saat ini. Rasanya sangat tidak bisa dipikirkan apabila saat ini tiba-tiba minyak menghilang karena sangat begitu pentingnya untuk menunjang kehidupan umat manusia.

Emas hitam ini dahulunya adalah primadona di Indonesia karena begitu melimpahnya sumber daya ini pada masanya. Sehingga Indonesia masuk jajaran negara pengekspor minyak terbesar pada saat itu. Karena minyka bumi begitu melimpahnya rakyat Indonesia pun merasakan nikmatnya harga turunan minyak bumi ini dengan harga murah. Murah yang dimaksud bukan karena cost explorasi alias pengambilannya yang murah namun karena subsidi yang diberlakukan pemerintah sehingga rakyat Indonesia dapat merasakan menikmati minyak dengan harga murah.

Pada saat tersebut harga minyak bumi di pasar dunia masih murah, kekayaan minyak negara ini juga masih melimpah serta nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika masih rendah. Namun saat ini disaat minyak dunia selalu bertengger diatas US$90 per barel, serta nilai tukar rupiah yang sangat jauh terhadap dolar amerika ditambah lagi kekayaan minyak bumi kita sudah menipis sehingga tidak kita pungkiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita terpaksa import sebahagian. Pada saatnya nanti juga bisa dipastikan stok minyak bumi kita akan habis dan kita akan total import minyak bumi. Disaat masalah tersebut menyatu, negara harus dipaksakan untuk menyediakan minyak bumi yang murah untuk warganya tidak peduli mampu atau tidak mampu semua menginginkan harga murah lewat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Tahun Anggaran 2013 ini APBN Republik Indonesia mencapai lebih Rp 1.900 T, namun sangat mengerikan nantinya diperkirakan Rp 300 T akan dibakar hangus untuk membiayai subsidi BBM. Padahal yang paling banyak menggunakan BBM adalah orang-orang mampu secara finansial karena mereka memiliki mobil pribadi. Tahun 2014 diproyeksikan APBN akan menembus Rp 2.000 Triliun namun bila saat seperti ini masih diteruskan bukan tidak mungkin seperampat anggaran tersebut alias sekitar Rp 500 T akan kembali dijadikan asap hasil pembakaran BBM bersubsidi. Mari kita pikirkan dana sebesar itu bila digunakan untuk membangun negara ini, ya mungkin sebagian berpikir paling dikorupsi namun mari kita berpikir positif. Dengan dana sebesar itu mari kita bayangkan impact nya bila digunakan untuk infrastruktur, peningkatan hasil pertanian, pendidikan maupun kesehatan, betapa bergunanya ketimbang menjadi asap menambah CO2 di muka bumi ini.

Mengapa pengalihan penggunaan Minyak Tanah menjadi Gas Elpiji bisa sukses dilaksanakan?, berapa penghematan yang telah diperoleh negara ini dari pengalihan tersebut. Mengapa penghematan penggunaan BBM saat ini tidak bisa dilakukan. Kuota minyak dibanyak daerah selalu lebih dari yang telah ditetapkan sehingga semakin membuat kantong APBN semakin bolong. Pemerintah telah melakukan pembatasan kuota BBM namun tidak berhasil, mewajibkan kendaraan plat merah menggunakan BBM non subsidi, pemerintah juga saat ini akan melakukan penjualan BBM dengan 2 harga, namun apakah hal tersebut juga akan efektif?.

Hukum ekonomi akan tetap berlaku, konsumen akan tetap berusaha mencari harga termurah bagaimanapun pengawasannya akan tetap bisa mereka tembus dan kembali upaya ini bisa dipastikan tidak akan efektif. Selama masih ada harga termurah tetap itu yang menjadi primadona.

Keberanian pemerintah yang dituntut untuk menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi sehingga beban APBN semakin ringan. Bukankah kenaikan itu tidak tabu, harga BBM yang mahal juga bukan menjadi dosa pemerintah karena selisih dana subsidinya bisa digunakan untuk hal lain kemakmuran bangsa ini. Ketimbang ratusan triliun hanya untuk dibakar dan dinikmati kalangan kaya lebih baik dialokasikan untuk peningkatan fasilitas infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Pengurangan subsidi adalah solusi yang sangat logis, bayangkan selisih BBM bersubsidi dengan yang tidak saat ini berkisar diantara Rp 6.350 – Rp 6.700/Liter jadi bila mobil pribadi mengisi minyak 50 liter negara telah mensubsidinya sekitar Rp 317.500 sangat tidak adil mereka telah kaya karena mereka sanggup memiliki mobil sementara rakyat miskin hanya mendapat Rp 300.000/bulan itupun harus antri dari pemerintah yang saat ini telah dihentikan. Sementara orang kaya itu bisa menggunakan 150 liter BBM dalam sebulan, bayangkan Rp 952.500 mereka menggunakan subsidi BBM sangat tidak adil.

Beranikah Pemerintah untuk menaikkan harga BBM mengurangi beban subsidi yang sangat memberatkan tersebut, beranikah belajar seperti penghapusan Minyak Tanah yang digantikan Gas Elpiji. Keberanian dan ketegasan sangat dituntut dari pemerintah untuk menyelamatkan bangasa yang cengeng ini yang sudah terbiasa disubsidi terbiasa dengan harga murah sehingga terkadang menjadi murahan. Beban subsidi sudah sangat tidak tepat karena orang kaya yang sangat menikmatinya bukan rakyat kecil yang seharusnya dibantu oleh pemerintah. Kenaikan harga BBM adalah solusi tepat karena selama masih ada harga yang murah maka konsumen akan berusaha untuk mendapatkannya dan akan kembali gagal pegontrolan subsidi BBM, namun apabila tidak ada lagi pilihan harga mau tidak mau pasti mereka membelinya. Tidak usah takut masalah daya saing toh diluar harga BBM sudah dari dulu tidak disubsidi. Hanya solusi cerdas yang mampu meringankan beban subsidi BBM ini. Naikkan harga BBM, Kurangi Subsidi mari tingkatkan kesejahteraan bangsa ini.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Mohon Isi Penjumlahannya * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.