badge

Dilema BLSM untuk Rakyat Kecil

BSLM
BSLM

BSLM

Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak bisa dihindari untuk menurunkan biaya subsidi yang tidak tepat guna yang ditanggung pemerintah. Ratusan Triliun Rupiah menguap menjadi asap setiap tahunnya dari uang subsidi BBM. Sementara para penikmat terbesar BBM adalah orang yang terkategorikan mampu. Karena mereka mampu sehingga mereka memiliki mobil, sebagai pemakai BBM bersubsidi paling besar. Sementara rakyat kecil paling hanya memiliki sepeda motor yang hanya mengkonsumsi BBM bersubsidi  1 liter an per hari.

Jadi langkah yang diambil pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi adalah langkah yang tepat, dari pada uang ratusan triliun itu tidak jelas juntrungannya. Namun pemerintah juga harus mencari jalan atau solusi agar rakyat kecil tidak semakin menderita akibat ekses dari kenaikan BBM. Jika pemerintah tidak mengambil solusi yang tepat memang rakyat kecil akan semakin menderita akibat mahalnya harga kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh mereka. Pasti ada jalan solusi untuk mengatasi kenaikan harga kebutuhan pokok. Mari kita berlogika mengapa harga jeruk dari cina, apel dari Washington USA, buah buahan luar negeri bisa lebih murah dari jeruk Pontianak atau jeruk berastagi/medan? Bahakan kita sulit memakan apel manalagi yang terkenal dari malang karena harganya lebih mahal dari apel luar negeri. Beras raskin yang dibagikan juga adalah beras impor yang harganya bisa lebih murah dari beras nasional. Ada apa dengan ini semua?, pasti ada solusi untuk ini semua yang bisa dicari agar kenaikan harga BBM tidak semakin memberatkan rakyat kecil.

BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) program yang mirip dengan BLT yang pernah diberikan pemerintah untuk meredam kenaikan harga BBM. Tahun ini pemerintah juga menggulirkan BLSM yang diberikan tujuannya untuk rakyat miskin yang tidak mampu untuk meredam ekses kenaikan harga BBM. BLSM adalah program yang tidak mendidik, bukan solusi tepat dan tidak tepat sasaran.

Antrian BSLM

Antrian BSLM

Pemerintah secara tidak langsung mengajarkan rakyatnya untuk meminta-minta, karena rakyat diberi bantuan uang tunai yang menjadi ikan, padahal seharusnya pemerintah memberikan pancing, jaring atau jala sebagai alat menangkap ikan agar terjadi keberlanjutan dan rakyat dapat sejahtera. BLSM hanya diberikan dalam waktu 4 bulan yang berarti masyarakat yang mendapatkannya hanya bisa menikmati selama 4 bulan otomatis selanjutnya mereka hanya bisa berharap pada nasib yang menjadikan mereka dapat menjadi kaya.

BLSM bukan solusi tepat buat mengurangi akibat kenaikan harga BBM, BLSM hanya bersifat sementara yang kalau dipikir juga nilainya sangat kecil yang bila digunakan bisanya dapat apa ?. Bagaimana agar didapatkan solusinya, agar dengan pengurangan subsidi BBM ini seluruh rakyat dapat menikmati kekayaan Negara dengan adil. Rakyat miskin dapat tertolong dan semakin bangkit dari kemiskinannya, agar subsidi bisa lebih tepat sasaran sehingga dana APBN dapat menyentuh seluruh masyarakat Indonesia.

Akibat kekacauan data BPS mengakibatkan ketidak tepatan penyaluran BLSM yang dibagikan kepada masyarakat. Data yang diberikan sepertinya adalah data ecek-ecek alias data asal karena tidak terferivikasi dengan baik. Bagaiamana mungkin orang yang tidak layak menerima bisa mendapatkan BLSM, sementara yang seharusnya menerima hanya bisa gigit jari menatap penuh harap. Orang yang telah hidup layak bisa mendapatkan, telah memiliki segalanya, memiliki hidup mapan, bahkan bila kita lihat di media para PNS, Polisi dan Tentara juga ada yang mendapat BLSM. Bahkan ada kepala dinas yang tercantum sebagai penerima BLSM. Sungguh data yang tragis, seperti dipaksakan untuk direalisasikan tanpa pengecekan ulang. Betapa kisruhnya pembagian BLSM ini karena data yang tidak terverifikasi dengan baik. Kapan lagi bangsa ini bisa maju, bila antar lembaga tidak ada standar  yang sama sehingga tersaji data yang amburadul.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Mohon Isi Penjumlahannya * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.