badge

Pemain Bisnis Digital Yang Mundur Dari Indonesia

Pemain Bisnis Digital Yang Mundur Dari Indonesia

Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar menjadi pasar yang menjanjikan bagi banyak perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis online alias bisnis digital. Bisnis digital yang menjanjikan ini menjadi rebutan dan menghasilkan kompetisi yang ketat. Tapi pasar yang menjadi rebutan ini ternyata tidak hanya membuat pemain bisnis digital semakina besar tetapi ada juga Pemain Bisnis Digital Yang Mundur Dari Indonesia.

Banyak perusahaan berbasis online asal luar negeri yang ikut mencari keberuntungan dari pasar bisnis digital di Indonesia. Orang Indonesia juga tak mau kalah banyak mendirikan startup dan ikut bersaing di pasar bisnis digital. Persaingan di bisnis digital yang ketat ini akhirnya menjadi sadis bagi sebagian perusahaan yang digadang menjadi besar ternyata takluk dan Pemain Bisnis Digital Yang Mundur Dari Indonesia, seperti perusahaan :

Multiply

Tadinya model bisnis Multiply adalah jejaring sosial, lalu karena keputusan bisnis berubah menjadi situs e-commerce. Untuk memperkuat pengusaan pasar e-commerce, Multiply pindah ke Indonesia. Setelah berubah Multiply sendiri disebut sebagai online marketplace. Situs model ini menyediakan lapak online kepada para penjual untuk menjajakan barangnya ke pengguna internet. Multiply kemudian menarik fee dari setiap transaksi yang terjadi. Namun mereka gagal menarik minat di Indonesia, Multiply memutuskan menutup lapak onlinenya pada 6 Mei 2013. Multiply mengakui sulit mencapai posisi terdepan di industri e-commerce, sulit bersaing dengan online marketplace lainnya.

Yahoo

Siapa yang gak kenal Yahoo, perusahaan penguasa online pada masanya. Memiliki banyak lini bisnis digital ketika berkuasa yang memiliki kantor dibanyak negara, termasuk di Indonesia. Namun pada akhir tahun 2014, Yahoo menutup kantornya di Indonesia. Menurut Barsha Panda, Head Corporate Communications Yahoo India & South East Asia keputusan tersebut merupakan bagian dari usaha Yahoo global merampingkan operasional perusahaan.

Rakuten

Perusahaan ini  berasal dari Jepang ini yang memiliki usaha bidang e-commerce. Perusahaan besar yang menguasai pasar e-commerce di Jepang masuk ke Indonesia untuk bersaing merebut bagian pasar digital Indonesia yang menjanjikan. Namun ternyata mereka tak sanggup bersaing dengan pemain e-commerce lainnya terutama pemain e-commerce lokal. Kejayaan pemain e-commerce lokal memaksa Rakuten angkat bendera putih dan memastikan tutup pada 1 Maret 2016 lalu. Rakuten kesulitan menghadapi kompetisi bisnis online yang sangat ketat di kawasan Asia Tenggara. Baik pemain asing ataupun lokal memang sangat agresif di wilayah ini, sebagian didukung dengan investasi dana besar.

Foodpanda

Situs pemesanan makanan anak usaha Rocket Internet asal Jerman ini masuk pasar Indonesia tahun 2012 lalu. Sejak saat itu Foodpanda telah bermitra dengan ribuan restoran di seluruh Indonesia dan menawarkan kemudahan bagi masyarakat dalam memesan makanan secara online. Hanya saja, jalan yang dilalui oleh Foodpanda di Indonesia tak semulus yang direncanakan. Seperti yang pernah diberitakan Tech Crunch Agustus 2016 lalu, Foodpanda harus takluk oleh startup lokal yang menawarkan layanan serupa, yakni Go-Food dari Go-Jek. Foodpanda akhirnya harus mengibarkan bendera putih dari persaingan aplikasi pemesanan makanan online di Indonesia setelah Go-Food dari Go-Jek kian merajalela.

Ternyata besarnya potensi pasar Indonesia tidak menjadikan semua pemain bisnis digital bisa ikut menikmatinya ada juga Pemain Bisnis Digital Yang Mundur Dari Indonesia. Hanya pemain yang kuat dengan beragam tekniknya yang mampu bertahan, sementara sebagian harus mundur dan mengakui kekalahannya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Mohon Isi Penjumlahannya * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.